MENJAGA TRADISI, MERAWAT TEKNOLOGI

MENJAGA TRADISI, MERAWAT TEKNOLOGI



Oleh: Asma N. Manhia

Menariknya, di tengah gempuran tren digital yang puncaknya begitu terasa sepanjang tahun 2023, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo tidak lantas hanyut dan meninggalkan media konvensional begitu saja. Fenomena ini menjadi sebuah anomali yang sangat menarik di era disrupsi, di mana banyak lembaga pendidikan komunikasi lainnya justru berlomba-lomba meruntuhkan kurikulum konvensional demi memburu atribut serba digital yang pragmatis. Ketika masyarakat luas berasumsi bahwa radio dan televisi terestrial telah berada di ambang kematian, Jurusan KPI IAIN Sultan Amai Gorontalo justru melihat sebaliknya. Ada sebuah kesadaran akademis yang sangat mendalam bahwa ruang digital yang bergerak serba cepat, instan, dan acap kali superfisial, tidak boleh dibiarkan begitu saja menenggelamkan fondasi-fondasi utama dalam ilmu penyiaran. Fondasi tersebut bukan sekadar urusan teknis transmisi analog, melainkan esensi dari komunikasi publik itu sendiri, yakni kurasi pesan, kedalaman substansi, dan pertanggungjawaban moral yang terstruktur. Ketika sebuah tajuk opini menyuarakan visi mengenai pentingnya menjaga tradisi sembari merawat teknologi, keberanian untuk tidak melupakan media konvensional di tengah badai digitalisasi adalah sebuah manifesto intelektual yang patut kita bedah secara jernih dan mendalam.

Langkah strategis ini bukan sekadar sebuah retorika di atas kertas atau pembelaan nostalgis terhadap masa lalu media penyiaran. Pengejawantahan dari kesadaran akademis tersebut diwujudkan melalui sebuah langkah taktis yang sangat terukur, berupa kegiatan turun lapangan secara langsung ke lembaga penyiaran publik terkemuka, seperti Radio Republik Indonesia (RRI) Gorontalo. Melalui program kunjungan dan praktik langsung ini, para mahasiswa sengaja diajak untuk menembus sekat-sekat teoretis yang kaku di dalam ruang kuliah menuju benturan realitas industri penyiaran yang sesungguhnya. Di dalam studio-studio penyiaran konvensional milik RRI Gorontalo itulah, mental dan keterampilan mahasiswa ditempa secara nyata agar mereka memahami secara mendalam bahwa setiap kata yang diucapkan dan mengudara memiliki bobot tanggung jawab sosial yang teramat besar. Industri penyiaran konvensional bukanlah ruang kosong tanpa aturan; di sana mahasiswa belajar dengan sangat intim mengenai ketatnya prinsip regulasi penyiaran, rumitnya hukum media yang mengikat, serta sakralnya kode etik penyiaran. Semua elemen pendisiplinan siber ini adalah sesuatu yang hari ini sering kali absen, diabaikan, bahkan dengan sengaja tergilas di dalam ruang bebas hambatan tanpa kurasi yang bernama media sosial.

Secara teoretis dan akademis, langkah praktis yang diambil oleh Jurusan KPI ini sesungguhnya merupakan bentuk pengejawantahan yang sangat presisi dari teori Konstruksi Sosial atas Realitas (Social Construction of Reality) yang digagas secara brilian oleh sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Di dalam konseptualisasi sosiologis ini, mahasiswa KPI tidak pernah dibiarkan hanya menjadi objek yang pasif, yang hanya bisa menerima, menelan, dan terombang-ambing oleh bentukan realitas digital baru yang serba instan, viral, dan penuh kepalsuan. Sebaliknya, melalui proses dialektika sosial yang melibatkan tahapan internalisasi pemahaman etika dan objektivasi nilai-nilai penyiaran di lembaga resmi seperti RRI, mahasiswa diajak untuk secara aktif ikut serta mengonstruksi realitas sosial masyarakat Gorontalo ke arah yang jauh lebih sehat, beradab, dan mencerahkan. Ini adalah sebuah proses pembentukan karakter komunikator yang agung, di mana ruang penyiaran konvensional bertindak sebagai filter moral yang menyaring keliaran arus informasi siber sebelum disajikan kembali kepada publik luas.

Di titik perjumpaan inilah kemudian terjadi sebuah dialektika yang sangat indah dan harmonis: media konvensional hadir untuk memberikan fungsi kurasi etika yang ketat serta kedalaman nilai-nilai kemanusiaan, sementara di sisi lain, media baru kontemporer memberikan aspek kecepatan operasional dan luasnya jangkauan distribusi informasi. Kedua kutub media ini tidak boleh lagi dipertentangkan dalam sebuah dikotomi biner yang saling membunuh, melainkan harus diintegrasikan ke dalam satu kesatuan hibrida yang saling menguatkan. Dampak nyata dari pendekatan hibrida ini akan terlihat sangat jelas ketika seorang mahasiswa KPI mulai meramu sebuah konten dakwah digital di ruang siber. Ia tidak akan lagi terjebak menjadi kreator konten picisan yang sekadar mengejar algoritma visual semu seperti "Flipped Video" atau berburu audio latar yang sedang tren demi mendulang popularitas instan. Dengan jangkar pengetahuan yang kuat, ia akan menyaring setiap jengkal konten tersebut menggunakan standar sensor kelayakan yang ketat, ketepatan verifikasi informasi, serta nilai kemaslahatan umat yang telah ia pelajari secara mendalam dari disiplin ilmu penyiaran konvensional.

Integrasi nilai media yang matang ini menjadi sesuatu yang teramat krusial, esensial, dan kontekstual bagi wilayah Provinsi Gorontalo, sebuah daerah yang hingga hari ini masih memegang teguh falsafah hidup luhur "Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah". Ruang publik digital di daerah yang religius ini sedang mengalami dahaga yang luar biasa akan pasokan konten-konten kreatif yang tidak hanya memikat mata secara visual atau menghibur secara emosional, melainkan juga konten yang mampu menjaga marwah keislaman serta merawat nilai-nilai lokalitas adat budaya setempat. Melalui pendekatan kurikulum hibrida yang kokoh ini, Jurusan KPI IAIN Sultan Amai Gorontalo kembali menegaskan peran penting dan posisi strategisnya di dalam ekosistem komunikasi lokal. Institusi ini secara sadar menegaskan bahwa mereka tidak sedang mencetak sebuah generasi kreator konten yang sekadar menjadi "buih" di lautan media sosial—sesuatu yang riuh bergemuruh sebentar di permukaan, menjadi viral dalam hitungan jam, lalu pecah, senyap, dan hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas makna sedikit pun bagi peradaban.

Sebaliknya, cita-cita besar dari rahim akademis Jurusan KPI adalah ingin mencetak sarjana-sarjana komunikator yang bertindak sebagai "ragi" bagi masyarakat. Ragi adalah sebuah elemen yang sangat kecil, sederhana, bahkan sering kali sama sekali tidak terlihat di atas permukaan kasat mata. Namun, meskipun keberadaannya tersembunyi, ragi memiliki kekuatan biologis yang luar biasa untuk mengkhitmadkan, menggerakkan, mengubah tekstur, serta membawa perubahan positif yang masif bagi peradaban digital masyarakat Gorontalo secara keseluruhan. Melalui metafora ragi ini, kita diajak untuk melihat bahwa esensi dari seorang komunikator Muslim modern bukanlah terletak pada seberapa banyak jumlah pengikut siber yang mereka miliki, melainkan seberapa dalam dampak transformasi sosial dan nilai kebaikan yang mampu mereka tularkan melalui narasi-narasi digital yang mereka produksi.

Jika kita telaah lebih jauh ke dalam dinamika industri media kontemporer, tantangan terbesar bagi jurnalis dan penyiar muda saat ini adalah hilangnya kompas etika akibat tekanan kecepatan siber yang menuntut segalanya serba instan. Media sosial telah mendidik masyarakat menjadi konsumen informasi yang tergesa-gesa, di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh sensasi klik. Dalam situasi darurat literasi seperti inilah, tradisi disiplin penyiaran konvensional yang diterapkan di RRI Gorontalo menemukan relevansi tertingginya. Ketika mahasiswa KPI diajarkan untuk duduk di depan konsol pemancar, menyusun naskah berita dengan prinsip keberimbangan, serta mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), mereka sedang menyerap esensi dari sebuah komunikasi yang bertanggung jawab. Pengalaman empiris ini memberikan sebuah kesadaran batin bahwa sebuah peluru yang lepas dari larasnya hanya akan melukai satu orang, namun sebuah kata yang keliru lepas dari pemancar radio dapat merusak tatanan sosial sebuah daerah.

Dialektika antara etika konvensional dan kecepatan digital ini juga menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap gejala pendangkalan agama atau yang sering disebut sebagai komodifikasi agama di ruang siber. Hari ini, kita menyaksikan betapa banyak konten keagamaan yang direduksi hanya demi mengejar target engagement yang pragmatis, tanpa memedulikan kedalaman sanad keilmuan maupun dampak psikologis bagi audiens. Mahasiswa KPI IAIN Sultan Amai Gorontalo, dibekali dengan wawasan penyiaran yang matang, diarahkan untuk mampu mengemas pesan-pesan dakwah Islam yang sejuk, moderat, dan inklusif ke dalam format media baru tanpa kehilangan marwah kesucian pesan itu sendiri. Mereka menggunakan kecanggihan teknologi digital sebagai sayap untuk terbang menjangkau audiens global yang lebih luas, namun tetap menggunakan etika komunikasi Islam sebagai jangkar berat yang menjaga mereka agar tidak terhempas oleh badai kedangkalan moral siber.

Oleh karena itu, keberhasilan Jurusan KPI dalam mempertahankan tradisi penyiaran konvensional di tengah kepungan era siber ini harus dipandang sebagai sebuah pencapaian akademik yang monumental dan strategis. Ini adalah sebuah pembuktian nyata bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam mampu melahirkan sebuah konsep modifikasi kurikulum yang tidak hanya bersifat reaktif-kosmetis terhadap tren zaman, melainkan bersifat adaptif-substantif dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur moralitas keagamaan. Langkah ini memberikan sebuah teladan berharga bagi dunia akademis secara luas, bahwa untuk menjadi modern dan relevan di era digital, kita tidak harus menghancurkan seluruh warisan tradisi masa lalu yang telah terbukti membentuk kedalaman berpikir. Dengan terus konsisten merawat keseimbangan yang indah antara kedalaman etika media konvensional dan kecepatan inovasi media baru, Jurusan KPI IAIN Sultan Amai Gorontalo dipastikan akan terus melahirkan ragi-ragi peradaban baru—para komunikator Muslim visioner yang siap menuntun, mencerahkan, dan membawa transformasi siber masyarakat Gorontalo menuju peradaban digital yang bermartabat, beretika, dan diridai oleh Allah SWT.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama