SEMINAR DIGITALISASI MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

SEMINAR DIGITALISASI MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN




Oleh: Asma A. Manhia 

Lanskap media di Provinsi Gorontalo sepanjang tahun 2024 bergerak dengan kecepatan yang sangat sulit untuk dibendung oleh sekat-sekat regulasi konvensional maupun benteng kultural yang pasif. Transformasi digital secara masif kini bukan lagi sekadar pilihan alternatif bagi institusi yang ingin maju atau sekadar tren gaya hidup kontemporer bagi sebagian kelompok urban yang gandrung akan pembaruan. Lebih dari itu, teknologi siber telah sepenuhnya bertransformasi menjadi sebuah ekosistem baru, sebuah ruang hidup semesta tempat umat manusia modern tinggal, berinteraksi, bekerja, membangun jejaring sosial, bahkan dalam cara mereka mendalami serta memahami nilai-nilai keagamaan sehari-hari. Bagi masyarakat yang bermukim di wilayah yang sarat akan nilai falsafah Islam dan dijuluki sebagai Serambi Madinah ini, kehadiran ruang digital kontemporer pada hakikatnya menawarkan dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang dan menuntut kecerdasan sosiologis untuk menakarnya. 

Di satu sisi yang bernada optimis, lanskap baru ini memberikan ruang demokratisasi informasi yang begitu luas, di mana siapa saja, tanpa memandang latar belakang kelas sosial maupun hierarki formal kampus, kini memiliki kesempatan yang setara untuk menjadi penyeru kebaikan, memproduksi konten dakwah, dan bertindak sebagai agen perubahan positif. Namun, jika kita membalik mata uang tersebut ke sisi lainnya, kita akan langsung dihadapkan pada realitas getir yang mengancam kohesi sosial, mulai dari liarnya arus informasi yang tidak terverifikasi, maraknya persebaran hoaks yang dirancang secara sistematis, hingga tantangan nyata berupa terkikisnya nilai-nilai etika dasar manusia di balik dingin dan anonimnya layar gawai yang mereka genggam.

Merespons dinamika siber yang kian krusial dan berpotensi besar menggerus moralitas publik serta tatanan sosial keagamaan tersebut, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Sultan Amai Gorontalo mengambil sebuah langkah taktis yang sangat visioner dengan menyelenggarakan forum ilmiah berskala besar berupa Seminar Digitalisasi. Ketika tajuk utama pemberitaan menyuarakan jargon mengenai bagaimana Seminar Digitalisasi hadir untuk Menjawab Tantangan Zaman, esensi kesuksesan dari manifesto akademik ini tidak boleh hanya dipandang secara dangkal sebagai sebuah agenda formalitas biasa untuk memenuhi kalender kegiatan jurusan semata. 

Forum ilmiah ini secara sadar dirancang sejak awal bukan sekadar untuk mempertemukan atau memperdebatkan deretan teori-teori akademis yang kaku di dalam ruang kelas yang terisolasi dari realitas masyarakat. Sebaliknya, seminar ini bertujuan untuk menghadapkan teori-teori tersebut secara langsung dengan realitas industri media mutakhir agar para mahasiswa tidak hanya tanggap dan tidak gagap terhadap perkembangan teknologi siber, melainkan juga tetap memiliki jangkar moral keagamaan yang kokoh di dalam jiwanya. Gaya penulisan opini yang tajam harus mampu melihat bahwa inisiatif dari Jurusan KPI ini merupakan sebuah jawaban nyata, sebuah antitesis ilmiah atas kekhawatiran publik mengenai arah masa depan pendidikan tinggi Islam di tengah gempuran era disrupsi digital yang sering kali mencabut manusia dari akar budayanya.

Saat membuka kegiatan yang penuh dengan urgensi ilmiah ini, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Andries Kango, menegaskan satu pesan reflektif yang sangat mendalam, berbobot, dan patut dijadikan sebagai landasan filosofis bagi seluruh civitas akademika yang hadir memadati ruangan. Beliau dengan pandangan visionernya mengingatkan dengan tegas bahwa proses digitalisasi bagi insan Komunikasi dan Penyiaran Islam tidak boleh sekadar dimaknai secara sempit sebagai urusan penguasaan alat teknis, pemahaman algoritma media sosial yang pragmatis, atau kemahiran mekanis dalam mengoperasikan peranti lunak penyiaran mutakhir belaka.

Lebih dari itu semua, digitalisasi pada hakikatnya adalah tentang bagaimana nilai-nilai luhur universal yang dibawa oleh ajaran Islam—seperti prinsip kebenaran yang hakiki (shiddiq), tanggung jawab sosial yang tinggi (amanah), dan penyampaian pesan yang santun, transparan, serta menyejukkan (tabligh)—tetap mampu dipertahankan sebagai ruh utama di tengah derasnya arus teknologi modern. Pesan mendalam dari sang Dekan ini menggarisbawahi sebuah prinsip dasar yang sangat fundamental bagi arah pergerakan institusi pendidikan Islam modern, yaitu bahwa di tengah gempuran zaman yang serba digital, kita memang sangat diperbolehkan bahkan diharuskan untuk merawat teknologi, namun jangan sampai kita kehilangan jati diri spiritual, karakter profetik, serta tradisi luhur yang selama ini menjadi akar dari peradaban kita.

Atmosfer seminar ilmiah ini menjadi terasa semakin hidup, dinamis, dan berenergi tinggi ketika pihak panitia berhasil mengawinkan dua perspektif yang saling melengkapi dan menguatkan, yaitu perspektif praktis jurnalistik yang lincah di lapangan dan perspektif teoretis komunikasi Islam yang mendalam melalui kehadiran dua narasumber yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing. Herjianto, S.E., seorang jurnalis profesional dari media Tribun Gorontalo, hadir untuk membedah secara blak-blakan mengenai realitas lapangan terkait bagaimana ruang redaksi media modern dipaksa bekerja di bawah tekanan arus digitalisasi yang luar biasa cepat dan tanpa henti. Dalam dunia jurnalistik siber hari ini, tantangan terbesar yang sering kali mengorbankan idealisme jurnalisme adalah bagaimana cara menjaga kecepatan penyampaian berita ke ruang publik tanpa sedikit pun mengorbankan aspek ketepatan serta keakuratan data yang disajikan. Secara akademis, fenomena yang dipaparkan oleh praktisi media ini erat kaitannya dengan konsep Konvergensi Media, di mana ruang publik siber modern menuntut sajian konten yang tidak hanya memikat mata audiens secara visual, tetapi juga harus benar-benar lolos dari uji tabayyun atau proses verifikasi data yang ketat sebelum dilepas ke masyarakat luas. Bagi para mahasiswa KPI yang memang dipersiapkan untuk menjadi praktisi komunikasi Muslim masa depan, paparan pengalaman langsung dari belantika industri media siber ini memberikan pemahaman konkret bahwa di atas kecepatan klik, jumlah tayangan, atau kejar tayang sebuah berita, ada hak publik yang jauh lebih sakral untuk mendapatkan pasokan informasi yang jujur, presisi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral serta sosial.

Di sisi lain ruang diskusi yang hangat tersebut, perspektif akademis diperkuat dengan sangat anggun oleh Mirnawati Ahaya, M.I.Kom., yang menyoroti betapa pentingnya melakukan konseptualisasi keilmuan Komunikasi Islam sebagai instrumen utama dalam menyaring dampak negatif dari arus digitalisasi. Ketika media sosial hari ini cenderung mengagungkan aspek kuantitas yang semu berupa kejar tayang jumlah pengikut (followers), akumulasi tanda suka (likes), dan tingginya angka interaksi digital (engagement), keilmuan KPI hadir menawarkan sebuah pendekatan alternatif yang jauh lebih bermartabat berupa Komunikasi Profetik atau komunikasi yang meneladani sifat-sifat kenabian. Melalui kacamata opini kritis ini, narasi digital yang diproduksi dan disebarkan ke tengah-tengah masyarakat Gorontalo sudah sepatutnya mengutamakan nilai kemaslahatan bersama, kedalaman empati sosial, serta semangat pemanusiaan manusia itu sendiri (humanisasi). Proses digitalisasi yang berjalan secara masif ini seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memperluas jangkauan silaturahmi yang produktif dan memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat luas, bukan malah disalahgunakan hingga melahirkan polarisasi sosial yang tajam, memicu kebencian, atau mengakibatkan pendangkalan makna nilai kehidupan di dalam ruang siber yang bising dan penuh kepalsuan.

Melalui momentum penyelenggaraan seminar digitalisasi yang sangat berbobot ini, Jurusan KPI FUD IAIN Sultan Amai Gorontalo secara meyakinkan telah kembali mempertegas posisi strategis dan kontribusi nyatanya dalam ekosistem komunikasi lokal di wilayah Provinsi Gorontalo. Langkah akademis yang berani mempertemukan secara langsung antara praktisi media lapangan dengan pakar komunikasi kampus ini adalah perwujudan nyata dari implementasi teori Konstruksi Sosial, di mana para mahasiswa tidak dibiarkan menjadi penonton pasif, melainkan ditempa sejak dini untuk ikut serta membangun tingkat literasi media yang sehat di tengah masyarakat yang memegang teguh falsafah luhur "Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah". Kita tentu saja tidak ingin generasi muda Gorontalo sekadar menjadi penonton yang terasing di tanah mereka sendiri, atau menjadi "buih" di media sosial—sesuatu yang tampak riuh bergemuruh dan memenuhi permukaan siber dalam sekejap, namun dalam hitungan jam segera pecah, senyap, dan hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas makna sedikit pun bagi peradaban kemanusiaan. Melalui integrasi yang kokoh antara etika penyiaran yang ketat, jurnalisme yang presisi dan berpihak pada kebenaran, serta nilai-nilai Islam yang teduh, institusi ini sedang melakukan ikhtiar kultural yang luar biasa untuk mencetak "ragi", yaitu agen-agen perubahan kecil yang tidak menonjolkan diri secara egoistis di permukaan, namun siap membawa kedamaian, merawat tradisi lokal, sekaligus menyejukkan spiritualitas masyarakat di ruang siber.

Jika kita merefleksikan lebih dalam, gagasan mengenai mencetak "ragi" ketimbang menjadi "buih" adalah sebuah kritik fundamental terhadap budaya viralitas yang saat ini mendominasi jagat maya kita. Budaya pop digital sering kali memaksa individu untuk menanggalkan rasionalitas dan moralitas demi mendapatkan pengakuan instan dalam bentuk angka-angka digital. Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, melalui pembekalan nilai-nilai profetik dalam seminar ini, diajarkan untuk melawan arus kedangkalan tersebut. Mereka dilatih untuk memahami bahwa sebuah konten komunikasi yang baik tidak diukur dari seberapa gaduh ia diperbincangkan, melainkan dari seberapa besar transformasi kesadaran yang dihasilkannya di tengah masyarakat. Karakter ragi yang melekat pada calon lulusan KPI ini akan bekerja secara senyap di berbagai lini industri media, menyusup ke dalam ruang-ruang digital, lalu mengubah cara pandang publik dari yang awalnya gemar menghujat dan menyebarkan kebencian menjadi masyarakat digital yang gemar bertabayyun, mengedepankan kesantunan, serta menghargai martabat sesama manusia.

Lebih jauh lagi, tantangan digitalisasi di wilayah Gorontalo memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan wilayah urban lainnya di Indonesia. Dengan ikatan adat yang sangat kuat dan bersandar penuh pada hukum syariat Islam, setiap distorsi komunikasi yang terjadi di ruang digital dapat berdampak langsung pada stabilitas kultural masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran jurnalisme yang presisi dan berbasis etika keislaman menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi. Ketika Herjianto membedah tentang tekanan kecepatan di ruang redaksi siber, hal itu harus dibaca sebagai peringatan keras bagi para akademisi kampus bahwa tantangan nyata di luar dinding kelas adalah pertarungan antara idealisme dan pragmatisme ekonomi media. Di sinilah kurikulum KPI harus mampu berdiri tegak sebagai benteng pertahanan terakhir yang memastikan bahwa calon-calon jurnalis Muslim yang dilahirkannya memiliki ketahanan mental untuk tetap memilih jalan kebenaran dan ketepatan data, meskipun mereka berada di bawah tekanan industri yang menuntut kecepatan tanpa jeda.

Di sisi lain, kontribusi pemikiran dari Mirnawati Ahaya mengenai Komunikasi Profetik memberikan arah kompas yang sangat jelas bagi pengembangan konten dakwah digital ke depan. Dakwah di era digital tidak boleh lagi dikemas secara kaku, monolog, dan menghakimi, yang justru sering kali memicu resistensi dari generasi muda netizen. Pendekatan profetik menuntut adanya sentuhan empati yang mendalam, penggunaan bahasa yang inklusif dan merangkul, serta pemanfaatan multimedia secara kreatif agar pesan-pesan suci keagamaan dapat tersampaikan secara estetik tanpa kehilangan kesakralan substansinya. Digitalisasi, dalam kacamata komunikasi Islam yang berkemajuan, harus diletakkan sebagai pelantang suara universal untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin ke seluruh penjuru dunia siber, sekaligus menjadi penyaring yang efektif terhadap masuknya ideologi-ideologi ekstrem dan transnasional yang berpotensi merusak tenun kebangsaan dan lokalitas Gorontalo.

Penyelenggaraan seminar ini pada akhirnya mengirimkan sebuah sinyal optimisme yang sangat kuat kepada publik luas bahwa IAIN Sultan Amai Gorontalo, khususnya Jurusan KPI, tidak mengambil sikap defensif yang antipati terhadap kemajuan teknologi siber, tidak pula bersikap permisif-naif yang menelan bulat-bulat seluruh produk modernitas tanpa sensor moral. Sikap yang diambil adalah sikap akademis yang aktif, hibrida, dan dialektis: merangkul kecanggihan teknologi digital sebagai alat perjuangan yang sangat efektif, namun pada saat yang sama tetap menjadikan keluhuran etika Islam dan adat budaya lokal sebagai pemandu arah yang mutlak. Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas konsistensi dan keberanian intelektual semacam ini, karena dari rahim diskusi ilmiah yang integratif inilah akan lahir generasi baru komunikator Muslim Indonesia yang mandiri, cerdas siber, berwawasan global, namun tetap tunduk dan takzim pada nilai-nilai spiritualitas keislaman yang luhur demi terwujudnya peradaban siber yang damai, beradab, dan bermartabat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama