Oleh: Asma A. Manhia
Merespons dinamika siber yang kian krusial dan berpotensi besar menggerus moralitas publik serta tatanan sosial keagamaan tersebut, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Sultan Amai Gorontalo mengambil sebuah langkah taktis yang sangat visioner dengan menyelenggarakan forum ilmiah berskala besar berupa Seminar Digitalisasi. Ketika tajuk utama pemberitaan menyuarakan jargon mengenai bagaimana Seminar Digitalisasi hadir untuk Menjawab Tantangan Zaman, esensi kesuksesan dari manifesto akademik ini tidak boleh hanya dipandang secara dangkal sebagai sebuah agenda formalitas biasa untuk memenuhi kalender kegiatan jurusan semata.
Forum ilmiah ini secara sadar dirancang sejak awal bukan sekadar untuk mempertemukan atau memperdebatkan deretan teori-teori akademis yang kaku di dalam ruang kelas yang terisolasi dari realitas masyarakat. Sebaliknya, seminar ini bertujuan untuk menghadapkan teori-teori tersebut secara langsung dengan realitas industri media mutakhir agar para mahasiswa tidak hanya tanggap dan tidak gagap terhadap perkembangan teknologi siber, melainkan juga tetap memiliki jangkar moral keagamaan yang kokoh di dalam jiwanya. Gaya penulisan opini yang tajam harus mampu melihat bahwa inisiatif dari Jurusan KPI ini merupakan sebuah jawaban nyata, sebuah antitesis ilmiah atas kekhawatiran publik mengenai arah masa depan pendidikan tinggi Islam di tengah gempuran era disrupsi digital yang sering kali mencabut manusia dari akar budayanya.
Saat membuka kegiatan yang penuh dengan urgensi ilmiah ini, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Andries Kango, menegaskan satu pesan reflektif yang sangat mendalam, berbobot, dan patut dijadikan sebagai landasan filosofis bagi seluruh civitas akademika yang hadir memadati ruangan. Beliau dengan pandangan visionernya mengingatkan dengan tegas bahwa proses digitalisasi bagi insan Komunikasi dan Penyiaran Islam tidak boleh sekadar dimaknai secara sempit sebagai urusan penguasaan alat teknis, pemahaman algoritma media sosial yang pragmatis, atau kemahiran mekanis dalam mengoperasikan peranti lunak penyiaran mutakhir belaka.
Lebih dari itu semua,
digitalisasi pada hakikatnya adalah tentang bagaimana nilai-nilai luhur
universal yang dibawa oleh ajaran Islam—seperti prinsip kebenaran yang hakiki (shiddiq), tanggung jawab sosial yang tinggi (amanah), dan penyampaian pesan yang santun, transparan,
serta menyejukkan (tabligh)—tetap mampu dipertahankan
sebagai ruh utama di tengah derasnya arus teknologi modern. Pesan mendalam dari
sang Dekan ini menggarisbawahi sebuah prinsip dasar yang sangat fundamental
bagi arah pergerakan institusi pendidikan Islam modern, yaitu bahwa di tengah
gempuran zaman yang serba digital, kita memang sangat diperbolehkan bahkan
diharuskan untuk merawat teknologi, namun jangan sampai kita kehilangan jati
diri spiritual, karakter profetik, serta tradisi luhur yang selama ini menjadi
akar dari peradaban kita.
Atmosfer seminar ilmiah ini menjadi terasa semakin hidup,
dinamis, dan berenergi tinggi ketika pihak panitia berhasil mengawinkan dua
perspektif yang saling melengkapi dan menguatkan, yaitu perspektif praktis
jurnalistik yang lincah di lapangan dan perspektif teoretis komunikasi Islam
yang mendalam melalui kehadiran dua narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya masing-masing. Herjianto, S.E., seorang jurnalis profesional dari
media Tribun Gorontalo, hadir untuk membedah secara
blak-blakan mengenai realitas lapangan terkait bagaimana ruang redaksi media
modern dipaksa bekerja di bawah tekanan arus digitalisasi yang luar biasa cepat
dan tanpa henti. Dalam dunia jurnalistik siber hari ini, tantangan terbesar
yang sering kali mengorbankan idealisme jurnalisme adalah bagaimana cara
menjaga kecepatan penyampaian berita ke ruang publik tanpa sedikit pun
mengorbankan aspek ketepatan serta keakuratan data yang disajikan. Secara
akademis, fenomena yang dipaparkan oleh praktisi media ini erat kaitannya
dengan konsep Konvergensi Media, di mana ruang publik siber modern menuntut
sajian konten yang tidak hanya memikat mata audiens secara visual, tetapi juga
harus benar-benar lolos dari uji tabayyun atau proses
verifikasi data yang ketat sebelum dilepas ke masyarakat luas. Bagi para
mahasiswa KPI yang memang dipersiapkan untuk menjadi praktisi komunikasi Muslim
masa depan, paparan pengalaman langsung dari belantika industri media siber ini
memberikan pemahaman konkret bahwa di atas kecepatan klik, jumlah tayangan,
atau kejar tayang sebuah berita, ada hak publik yang jauh lebih sakral untuk
mendapatkan pasokan informasi yang jujur, presisi, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara moral serta sosial.
Di sisi lain ruang diskusi yang hangat tersebut, perspektif
akademis diperkuat dengan sangat anggun oleh Mirnawati Ahaya, M.I.Kom., yang
menyoroti betapa pentingnya melakukan konseptualisasi keilmuan Komunikasi Islam
sebagai instrumen utama dalam menyaring dampak negatif dari arus digitalisasi.
Ketika media sosial hari ini cenderung mengagungkan aspek kuantitas yang semu
berupa kejar tayang jumlah pengikut (followers),
akumulasi tanda suka (likes), dan tingginya angka
interaksi digital (engagement), keilmuan KPI hadir
menawarkan sebuah pendekatan alternatif yang jauh lebih bermartabat berupa
Komunikasi Profetik atau komunikasi yang meneladani sifat-sifat kenabian.
Melalui kacamata opini kritis ini, narasi digital yang diproduksi dan
disebarkan ke tengah-tengah masyarakat Gorontalo sudah sepatutnya mengutamakan
nilai kemaslahatan bersama, kedalaman empati sosial, serta semangat pemanusiaan
manusia itu sendiri (humanisasi). Proses digitalisasi
yang berjalan secara masif ini seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk
memperluas jangkauan silaturahmi yang produktif dan memperdalam pemahaman
keagamaan masyarakat luas, bukan malah disalahgunakan hingga melahirkan
polarisasi sosial yang tajam, memicu kebencian, atau mengakibatkan pendangkalan
makna nilai kehidupan di dalam ruang siber yang bising dan penuh kepalsuan.
Melalui momentum penyelenggaraan seminar digitalisasi yang
sangat berbobot ini, Jurusan KPI FUD IAIN Sultan Amai Gorontalo secara
meyakinkan telah kembali mempertegas posisi strategis dan kontribusi nyatanya
dalam ekosistem komunikasi lokal di wilayah Provinsi Gorontalo. Langkah
akademis yang berani mempertemukan secara langsung antara praktisi media
lapangan dengan pakar komunikasi kampus ini adalah perwujudan nyata dari
implementasi teori Konstruksi Sosial, di mana para mahasiswa tidak dibiarkan
menjadi penonton pasif, melainkan ditempa sejak dini untuk ikut serta membangun
tingkat literasi media yang sehat di tengah masyarakat yang memegang teguh
falsafah luhur "Adat bersendikan Syara’, Syara’
bersendikan Kitabullah". Kita tentu saja tidak ingin generasi
muda Gorontalo sekadar menjadi penonton yang terasing di tanah mereka sendiri,
atau menjadi "buih" di media sosial—sesuatu yang tampak riuh
bergemuruh dan memenuhi permukaan siber dalam sekejap, namun dalam hitungan jam
segera pecah, senyap, dan hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas makna sedikit
pun bagi peradaban kemanusiaan. Melalui integrasi yang kokoh antara etika
penyiaran yang ketat, jurnalisme yang presisi dan berpihak pada kebenaran,
serta nilai-nilai Islam yang teduh, institusi ini sedang melakukan ikhtiar
kultural yang luar biasa untuk mencetak "ragi", yaitu agen-agen
perubahan kecil yang tidak menonjolkan diri secara egoistis di permukaan, namun
siap membawa kedamaian, merawat tradisi lokal, sekaligus menyejukkan
spiritualitas masyarakat di ruang siber.
Jika kita merefleksikan lebih dalam, gagasan mengenai mencetak
"ragi" ketimbang menjadi "buih" adalah sebuah kritik
fundamental terhadap budaya viralitas yang saat ini mendominasi jagat maya
kita. Budaya pop digital sering kali memaksa individu untuk menanggalkan
rasionalitas dan moralitas demi mendapatkan pengakuan instan dalam bentuk
angka-angka digital. Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, melalui
pembekalan nilai-nilai profetik dalam seminar ini, diajarkan untuk melawan arus
kedangkalan tersebut. Mereka dilatih untuk memahami bahwa sebuah konten
komunikasi yang baik tidak diukur dari seberapa gaduh ia diperbincangkan,
melainkan dari seberapa besar transformasi kesadaran yang dihasilkannya di
tengah masyarakat. Karakter ragi yang melekat pada calon lulusan KPI ini akan
bekerja secara senyap di berbagai lini industri media, menyusup ke dalam
ruang-ruang digital, lalu mengubah cara pandang publik dari yang awalnya gemar
menghujat dan menyebarkan kebencian menjadi masyarakat digital yang gemar
bertabayyun, mengedepankan kesantunan, serta menghargai martabat sesama
manusia.
Lebih jauh lagi, tantangan digitalisasi di wilayah Gorontalo
memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan wilayah urban
lainnya di Indonesia. Dengan ikatan adat yang sangat kuat dan bersandar penuh
pada hukum syariat Islam, setiap distorsi komunikasi yang terjadi di ruang
digital dapat berdampak langsung pada stabilitas kultural masyarakat. Oleh
karena itu, kehadiran jurnalisme yang presisi dan berbasis etika keislaman
menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi. Ketika Herjianto
membedah tentang tekanan kecepatan di ruang redaksi siber, hal itu harus dibaca
sebagai peringatan keras bagi para akademisi kampus bahwa tantangan nyata di
luar dinding kelas adalah pertarungan antara idealisme dan pragmatisme ekonomi
media. Di sinilah kurikulum KPI harus mampu berdiri tegak sebagai benteng
pertahanan terakhir yang memastikan bahwa calon-calon jurnalis Muslim yang
dilahirkannya memiliki ketahanan mental untuk tetap memilih jalan kebenaran dan
ketepatan data, meskipun mereka berada di bawah tekanan industri yang menuntut
kecepatan tanpa jeda.
Di sisi lain, kontribusi pemikiran dari Mirnawati Ahaya mengenai
Komunikasi Profetik memberikan arah kompas yang sangat jelas bagi pengembangan
konten dakwah digital ke depan. Dakwah di era digital tidak boleh lagi dikemas
secara kaku, monolog, dan menghakimi, yang justru sering kali memicu resistensi
dari generasi muda netizen. Pendekatan profetik menuntut adanya sentuhan empati
yang mendalam, penggunaan bahasa yang inklusif dan merangkul, serta pemanfaatan
multimedia secara kreatif agar pesan-pesan suci keagamaan dapat tersampaikan
secara estetik tanpa kehilangan kesakralan substansinya. Digitalisasi, dalam
kacamata komunikasi Islam yang berkemajuan, harus diletakkan sebagai pelantang
suara universal untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin ke seluruh penjuru dunia siber,
sekaligus menjadi penyaring yang efektif terhadap masuknya ideologi-ideologi
ekstrem dan transnasional yang berpotensi merusak tenun kebangsaan dan
lokalitas Gorontalo.
Penyelenggaraan seminar ini pada akhirnya mengirimkan sebuah
sinyal optimisme yang sangat kuat kepada publik luas bahwa IAIN Sultan Amai
Gorontalo, khususnya Jurusan KPI, tidak mengambil sikap defensif yang antipati
terhadap kemajuan teknologi siber, tidak pula bersikap permisif-naif yang
menelan bulat-bulat seluruh produk modernitas tanpa sensor moral. Sikap yang
diambil adalah sikap akademis yang aktif, hibrida, dan dialektis: merangkul
kecanggihan teknologi digital sebagai alat perjuangan yang sangat efektif,
namun pada saat yang sama tetap menjadikan keluhuran etika Islam dan adat
budaya lokal sebagai pemandu arah yang mutlak. Kita patut memberikan apresiasi
yang setinggi-tingginya atas konsistensi dan keberanian intelektual semacam
ini, karena dari rahim diskusi ilmiah yang integratif inilah akan lahir
generasi baru komunikator Muslim Indonesia yang mandiri, cerdas siber,
berwawasan global, namun tetap tunduk dan takzim pada nilai-nilai spiritualitas
keislaman yang luhur demi terwujudnya peradaban siber yang damai, beradab, dan
bermartabat.
